Senin, 04 Januari 2016

Cerita Misteri : Kupaksa Suamiku Menikahi Jin

Kupaksa Suamiku Menikahi Jin

Cerita Misteri : Kupaksa Suamiku Menikahi Jin | Terus terang, aku memang seorang istri yang materialistik dan menuntut banyak dari suamiku. Maka, saat suamiku mengajakku melakukan pesugihan, yang salah satu syaratnya adalah menikahi jin wanita, aku merelakannya.

Malam itu, setelah anak semata wayangku tertidur, suamiku mengajakku ke ruang tengah. la ingin mengatakan suatu hal yang katanya penting sekaii. Aku tidak tahu sama sekali apa yang akan dikatakannya. Aku juga tidak bisa menduga mengenai sesuatu yang katanya penting sekali itu. "Tekadku sudah bulat dan kuat, Dik," ucap suamiku. Namun, setelah berucap demikian, suamiku sepertinya kesulitan untuk mengatakan lanjutannya. Aku terdiam menunggu kalimat apa yang akan diteruskan suamiku.

Suamiku meneruskan lagi, "Jalan satu-satu agar kehidupan kita lebih baik adalah kamu harus merelakan aku untuk melakukan poligami, Dik!" ucap suamiku yang tentu saja membuatku kaget. Aku langsung menyambar ucapan suamiku, "Apa, Mas ingin menikah lagi?! Apa saya tidak salah dengar, Mas! Menghidupi seorang istri dan satu anak saja sudah susah begini, apalagi jika nanti sampaimempunyai dua istri!”

"Tunggu dulu, Dik! Dengarkanlah dulu ucapanku, aku belum selesai ngomongnya! Jangan asal nyerocos begitu!" Aku tidak peduli dengan ucapan suamiku. Aku terus nyerocos "Saya tahu maksudnya, bahwa Mas mau menikah dengan wanita yang kaya, yang biar kekayaannya bisa untuk membantu kehidupan kita? Tidak, saya tidak mau dipoligami, Mas! Kalau Mas ingin menikah lagi, lebih baik kita cerai saja!" ancamku. "Bukan itu maksudku, Dik" Kalau bukan untuk menikah lagi, lalu apa maksudnya dengan ucapan poligami tadi?!" aku sudah terlanjur emosi begitu mendengar kata poligami, yang artinya bagiku adalah beristri lebih dari satu.

"Makanya dengarkan dulu ucapanku! Jangan nyerocos terus!" ucap suamiku. Suamiku mengamati sekelilingnya, ia seperti khawatir jika apa yang akan diucapkan didengar orang lain. Malam itu, anak semata wayang kami sudah tertidur di kamarnya.

"Kita tidak boleh keras-keras membicarakannya," ucap suamiku sambil memperbaiki posisi duduk nya. Melihat wajah suamiku yang serius, aku mulai sedikit percaya bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang memang penting sekali.

"Aku sudah berbicara dengan Mbah Likan, Dik, jika hidup kita ingin enak, aku disarankan untuk melakukan poligami, tapi bukan dengan manusia. Melainkan dengan jin wanita penunggu sebuah makam keramat di daerah Trowulan!"

Awalnya, aku tidak percaya dengan ucapan suamiku. Suamiku pasti sedang ngelantur, mana mungkin ada jin wanita yang bisa diajak berpoligami dan akan bisa memberikan kekayaan bagi yang mau melakukannya.

"Kamu kan ingin hidup enak, pakaian bagus, pokoknya nyandang yang bagus baguslah, padahal kamu tahu sendiri bahwa suamimu ini penghasilannya tidak menentu."

"Sudah tahu begitu, kenapa Mas sampai saat ini tidak bisa memenuhi. Itu tugas suami Mas, untuk menyenangkan istri dan anaknya. Gitu bilangnya cinta sama istri, wong istrinya setiap hari hidupnya serba kekurangan begini," pungkasku.

"Nah, inilah salah satu cara agar hidup kita lebih baik lagi dan agar bisa kaya raya," ucap suamiku.

Mulanya aku tidak setuju dengan ucapan suamiku. Terus terang, aku sebenarnya takut sebab yang mananya iin atau setan, dalam bayanganku adalah sosok makhluk yang menyeramkan. Namun, setelah dijelaskan oleh suamiku, aku akhirnya setuju saja dengan rencana aneh tersebut. Setelah aku menyetujui rencana suamiku tersebut, pada malam yang ditentukan, dengan diantar Mbah Likan, suamiku mendatangi sebuah makam yang ada di daerah Trowulan, yang katanya dihuni jin dari jenis wanita. Menurut suamiku, makam itu sering didatangi sinden atau penyanyi karena makam itu adalah makam seorang sinden yang cukup terkenal pada zaman dulu. Karena ingin menyerap aura mistis dari jasad orang yang dimakamkan di situ, maka para sinden atau penyanyi setingkat kabupaten ada yang melakukan olah lelaku di makam tersebut. Usai melakukan ritual gaib tersebut, yang pasti kehidupan kami kemudian membaik. Rejeki keluargaku mengalir bak aliran sungai yang deras. Pekerjaan suamiku yang seorang makelar, mulai dari sepeda motor, mobil, sampai tanah temyata menghasilkan uang yang cukup banyak. Rejeki itu seperti tiada habisnya dan datang dengan sendirinya. Usaha-usaha lain, seperti membuka toko pun akhirnya kami lakukan.

Sejak itulah, lalu segala apa yang menjadi keinginanku pasti terpenuhi. Aku bisa memakai perhiasan yang mewah, baju-baju baru yang mahal, juga sering makan di restoran atau rumah makan yang tentu saja enak sekali.

Kehidupan kami memang berubah cepat secara ekonomi. Namun, di balik kesuksesan itu, ada yang berubah pada diri suamiku. Kulihat tubuh suamiku semakin hari semakin kurus. la juga sering pergi malam secara mendadak atau beberapa hari pergi tidak pulang. Ketika hal itu kutanyakan kepadanya, suamiku mengatakan jika makhluk gaib yang dinikahinya sebagai istri, sering datang sewaktu-waktu. Bahkan, katanya tidak hanya diminta menyenangkan layaknya hubungan isuami-istri, tapi juga menemani ke mana saja makhluk ini ingin pergi. “Karena sering melayani keinginan keduanya yang berasal dari makhluk gaib itulah suamiku menjadi jarang memperhatikan kebutuhan bathinku. Suatu malam, saat tiba-tiba terbangun dari tidurku dan tidak mendapati suamiku di sebelahku, aku menemukan suamiku sedang bermesraan dengan seorang wanita di kamar sebelah. Kuintip suami sedang memadu kasih, layaknya seperti jika sedang memadu kasih denganku. Mulanya aku kaget bercampur rasa cemburu. Namun, kemudian pikiranku sadar dan bisa menguasai diri jika yang sedang bercumbu dengan suamiku itu bukan manusia, tapi makhluk gaib yang sudah menjadi istrinya.

Pernah pula pada suatu malam dikesempatan lain, aku melihat suamiku justru sedang bercumbu dengan wanita yang wajahnya mirip denganku. Aneh, ternyata jin bisa menyerupaiku sehingga suamiku salah sangka dan menganggap yang sedang dilayani itu adalah aku.

Sesekali suamiku memang masih menyentuhku. Meski kurang mendapatkan perhatian mengenai hai yang begitu, aku tidak pernah protes toh aku sudah mendapat perhatian yang lain secara ekonomi. Dengan itu aku bisa bersenang-senang menghibur diri, memanjakan diri. Kasih sayang, kebutuhan bathin, ternyata bagiku tidak terlalu penting, sebab yang terpenting adalah aku bisa hidup glamour dan bisa bersenang-senang layaknya para wanita kaya.

Baju bagus, perhiasan banyak, dan bisa mengendarai mobil pribadi yang harganya tidak sembarang orang bisa membeli bisa aku lakukan dengan sangat mudah.

Setelah sekitar 5 tahun aku bisa menikmati kekayaan yang kami dapatkan, suamiku kemudian jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Padahal usianya belum genap 50 tahun. Terus terang, awalnya aku merasa kehilangan sekali. Suamiku meninggalkan harta kekayaan yang cukup banyak untuk aku dan anak semata wayangnya.

Sepeninggal suamiku, sedikit demi sedikit harta kekayaan yang aku warisi mengalami kemunduran sedikit demi sedikit. Terus terang aku mengkhawatirkan akan hal itu. Sampai akhirnya kutemukan cara untuk menghentikan itu, yakni dengan cara aku menikah lagi dengan seorang lelaki dan aku membujuknya untuk kembali melakukan pemujaan pesugihan, seperti yang dulu pernah dilakukan suami pertamaku.

Seperti suami pertamaku, suami keduaku juga tidak bertahan lama, ia meninggal dunia setelah menikah denganku selama 3 tahun. Setidaknya sudah tiga suamiku yang meninggal secara Misterius dan aku yakin mereka adalah korban pesugihan yang sedang kami jalankan.

Setelah untuk ketiga kalinya, aku selanjutnya kesulitan mencari suami lagi. Masyarakat sekitar rupanya tahu bahwa apa yang terjadi dengan suami-suamiku terdahulu tidak masuk akal dan me reka menduga pasti ada hubungannya dengan jenis ritual pesugihan.

Tak melakukan pemujaan pesugihan, dengan cara menikahi jin, sedikit demi sedikit, kekayaan yang aku miliki akhirnya menyu sut. Anak tunggalku pergi jauh mengikuti suaminya. la tidak perhatian padaku. Di rumah besar yang sekarang aku tempati, aku hanya tinggal sendirian bersama seorang pembantu wanita bernama Mak Sum. Bersamaan dengan terus menyusutnya harta benda yang kumiliki, aku juga mulai sakit-sakitan. Dalam keadaan seperti itu, Mak Sum lah yang perhatian padaku. Sekarang ini, ibaratnya aku hanya sedang menunggu ajal. Namun, sebelum aku dipanggil Yang Maha Kuasa, aku mencoba untuk bertaubat dan entahlah, apakah dosa-dosaku yang sangat besar ini masih bisa diampuni Tuhan? Tuhan ampunilah hambamu yang hina dan penuh dosa ini.

Sumber: http://www.majalah-misteri.com/2014/09/kupaksa-suamiku-menikahi-jin.html

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Jadikan setiap hal yang terjadi disekitarmu menjadi suatu hal yang menarik untuk di ceritakan